Melodrama Sebuah Jalan - Sinematik Puisi (Ruang Katarsis)

Melodrama Sebuah Jalan - Sinematik Puisi (Ruang Katarsis)

Sebuah sinematik puisi Melodrama Sebuah Jalan (kepada para sahabat pergerakan)   MELODRAMA SEBUAH PUISI (kepada sahabat pergerakan) Pada akhirnya, para demonstran itu akan mati Tak ada yang tersisa kecuali puisi Juga anyir darah yang amisnya Masih tercium sepanjang peristiwa   Di jalanan, tempat kita berdiri Menantang wajah matahari Sambil melepaskan suara angin Ke balik gedung kota yang dingin   Kita berdiri Atas nama pilar bangsa yang retak Kehilangan setiap mimpi Yang diruntuhkan oleh kejamnya sebuah negeri   Lalu, untuk siapa bendera berkibar di udara Bila akhirnya menjadi lusuh dan kehilangan tanda?   Kita terlantar dalam mimpi Terkapar di atas tanah sendiri Sedangkan secangkir kopi yang mengepul sepanjang sunyi Hanya tinggal ampas dan melesap ke tengah malam yang nisbi   Maka, kita tak perlu murung, Sahabat… Pancangkan kuat-kuat kaki di bumi Meneriakkan suara langit Ke balik wajah-wajah bertopeng yang menghimpit   Kemudian, kita berlari menjumpai sebuah jalan Sambil membawa sisa-sisa luka Bagi anak-anak yang kehilangan puisi Lebih-lebih bagi ibu yang menunggu di dada matahari   Sampai akhirnya, kita akan sama-sama gugur Di atas sepetak tanah yang subur Sebagai sebuah nama Yang kekal di bawah tiang bendera   Sumenep, 29 Maret 2015 *** Judul Puisi: Melodrama Sebuah Jalan Penulis: Rifky Raya Video Editor: Ramadan Rasta Talent: Ramadan Rifky Jimip Fendi Ilyas Hairil Irul Terimakasih. Salam proses kreatif!