Sore itu, 24 Desember 2000, dengan mengenakan seragam loreng hijau Banser NU, putra sulung Katinem itu pamit untuk PAM di Gereja Eben Haezer, Mojokerto. saat itu, 20 Ramadan 1421 hijriah, "Dia berangkat sore, pamit ke saya, pamit ke bapaknya mau ke Eben Haezer. Sore, belum Magrib, belum sempat berbuka juga," kata Katinem. Riyanto mengatakan ia dan sahabat2nya berniat iktikaf bersama di masjid selepas tugas Banser. "Waktu itu masuk 10 malam terakhir Ramadhan. Jam 8 malam kami mendengar ada bom meledak, saat itu yang saya tahu korbannya seorang banser. Niat iktikaf kami tertunda, Riyanto juga belum pulang" cerita Katinem. Katinem mendengar yang terkena ledakan adalah Amir Sagianto--rekan Banser anaknya yang bertugas di gereja yang sama. Suaminya, Sukarmin, tiba dan menuturkan Riyanto tak ada kabar usai ledakan. barulah Katinem cemas. Saat kepala koperasi desa tempat anaknya bekerja mendadak datang dan meminta berdoa dan merapal surat Fatihah untuk Riyanto. Tak lama, Sukarmin lalu berbisik ke Katinem setelah memastikan bahwa Riyanto Gugur terkena ledakan bom. Sama seperti Riyanto, Amir Sagianto juga seorang banser yang menjaga Gereja Eben Haezer pada 24 Desember 2000. "Jam 16.00 WIB sudah kumpul di rumah saya, semua teman-teman, Cak Bowo, Cak Wul, Cak Subandi, Riyanto, dengan saya," ujar Amir mengingat kembali. Sesampainya di sana, mereka pun mulai menyiapkan penjagaan. Ketika azan Magrib berkumandang, mereka berbuka puasa lalu bergantian menunaikan ibadah salat wajib. Sesampainya di sana, mereka pun mulai menyiapkan penjagaan. Ketika azan Magrib berkumandang, mereka berbuka puasa lalu bergantian menunaikan ibadah salat wajib. Saat berbuka puasa dengan sebotol air mineral yang dibeli Riyanto, Amir mengaku kaget ketika rekannya tersebut tiba-tiba bertanya soal muslim jika meninggal saat menjaga ibadah umat agama lain. "Dik Riyanto itu aneh tanyanya, dia bilang 'Pak Bowo, kalau aku jaga gereja begini bagaimana kalau mati?'. Ya Pak Bowo jawab 'alhamdulillah mati syahid dik, membela persatuan kesatuan'. Sudah itu dia enggak tanya-tanya lagi, diam, seperti berpikir," ujar Amir. Setelah salat dan buka puasa, Riyanto dan Amir kemudian diminta kepolisian mewakili Banser untuk mengikuti apel di halaman Mapolres Mojokerto. Merujuk pada peta, jarak dua lokasi itu sekitar 900 meter.Setelah apel, Riyanto sempat memperbaiki vespanya yang sempat mogok lalu kembali ke Gereja Eben Haezer menjalankan tugas menjaga prosesi Misa Natal. Sekitar pukul 19.45 WIB, kata Amir, salah seorang jemaat memberitahu ada tas yang tergeletak di bawah telepon umum, di depan gereja. Amir pun mengecek keberadaan tas yang tergeletak itu. Tak lama, Riyanto pun menghampirinya. Mereka kaget, dalam tas terdapat rangkaian kabel dan paku. Salah seorang polisi yang juga melihat tas itu lalu sadar itu adalah bom sehingga refleks berteriak, "Tiarap!".Spontan teriakan itu membuat kerumunan orang di depan gereja kocar-kacir, sementara tas berisi bom itu masih tergeletak. Amir melihat Riyanto segera mengambil tas berisi bom tersebut, memeluknya sambil membawa menjauh dari kerumunan--ke arah selokan di seberang gereja. "Belum sempat masuk selokan, [tas] dilempar Dik Riyanto ternyata meledak, jalan jadi gelap, keadaan sudah kacau, saya sudah tidak ingat apa-apa lagi," kata Amir. Berdasarkan keterangan rekan-rekannya, ledakan itu membuat tubuh Riyanto terpental sejauh 30 meter dari titik ledakan. Amir juga dilarikan ke rumah sakit. Ia menderita luka sobek di bagian kepala terkena serpihan ledakan,, Lahul fatihah.. 😊 🙏 #SalamSolidSatuKomando #BanserIndonesia